Sabtu, 13 Desember 2014

Menaksir Kelimpahan Populasi Hewan


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hewan dapat didefinisikan sebagai kelompok makhluk hidup multiseluler yang berevolusi dari organisme eukariot yang memilki nenek moyang “protista” sebagai organisme heterotrof sel tubuh hewan telah mengalami spesialisasi dan mempunyai bermacam-macam fungsi terutama untuk pembentukan struktur tubuh metabolisme, menerima rangsangan, pergerakan, dan reproduksi.
Kepadatan populasi suatu jenis atau kelompok  hewan dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah atau biomassa perunit. Atau persatuan luas atau persatuan volume. Kepadatan populasi sangat penting diukur untuk menghitung produktifitas, tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan komunitas lain. Keberadaan dan kepadatan popuasi suatu jenis hewan bergantung dari faktor lingkungan yaitu faktor biotik dan faktor abiotik. Faktor biotik bagi hewan itu sendiri yaitu lingkungan dan organisme lain yang terdapat di habitatnya  seperti mikroflora, tumbuh-tumbuhan dan jenis hewan lainnya. Pada komunitas itu jenis-jenis organisme saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi itu dapat berupa predasi, parasit, kompetensi, simbiosis dan interaksi yang lainnya.
Interaksi antara populasi merupakan interaksi yang terjadi antara populasi-populasi dari berbagai spesies yang berbeda yang hidup bersama dalam suatu komunitas. Dapat dikatakan bahwa populasi dari berbagai spesies berbeda yang terdapat dalam suatu komunitas yang hidup berdampingan satu sama lain. Beberapa ciri statistik penting pada populasi adalah kerapatan, natalitas, mortalitas, sebaran umur, potensi biotik, pancaran dan bentuk pertumbuhan. Di samping itu populasi itu juga memiliki karakteristik genetik yang langsung berhubungan dengan egologinya, adalah keadaptifan, ketegaran reproduktif, dan persistensi meninggalkan keturunan dalam waktu yang lama.
Perhitungan populasi  bertujuan untuk mengetahui keragaman dan kemelimpahan jenis hewan yang tinggal di suatu tempat. Dalam melakukan penelitian ekologi hewan di lakukan di  hutan Aek Nauli yaitu dengan menghitung kelimpahan populasi hewan dengan menggunakan metode Pit fall trap, metode Feromon trap, dan metode Light tarp. Penelitian ini juga dilakukan untuk memenuhi salah satu tugas praktikum lapangan mata kuliah Ekologi Hewan.
1.2. Perumusan Masalah
·         Berapa banyak nilai taksiran untuk kelimpahan lalat buah di Hutan Lindung Aeknauli ?
·         Bagaimana perbandingan kelimpahan populasi lalat buah antara daerah homogen dan heterogen di Hutan Lindung Aeknauli ?
·         Bagaimana cara menaksir kelimpahan populasi hewan dengan menggunakan metode ?
1.3. Tujuan Penulisan
·         Untuk menaksir kelimpahan populasi lalat buah di Hutan Lindung Aeknauli
·         Untuk membandingkan kelimpahan populasi lalat buah antara daerah heterogen dan daerah homogen di Hutan Lindung Aeknauli
·         Untuk mengetahui cara menaksir kelimpahan populasi hewan menggunakan metode
·         Untuk
1.4. Manfaat Penulisan
Dengan diadakannya praktikum “Menaksir Kelimpahan Populasi Hewan” di Hutan Lindung Aeknauli, praktikan dapat memahami dan mengamati secara langsung penggunaan setiap metode yang berbeda-beda pada setiap percobaan, selain itu praktikan juga dapat membandingkan hasil yang di peroleh dari setiap Metode dan dapat menilai metode apakah yang paling efektif digunakan dalam percobaan “Menaksir Kelimpahan Populasi Hewan”.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Hutan sebagai ekosistem merupakan habitat bagi flora dan fauna. Komponen-komponen dalam ekosistem, dalam beinteraksi memiliki peranan tersendiri. Salah satu contoh interaksi tersebut dalam bentuk rantai makanan. Dengan adanya rantai makanan maka masing-masing komponen mempunyai struktur komunitas yang berbeda-beda mulai dari produsen, komsumen sampai pengurai. Pengukuran faktor fisika-kimia tanah dapat di lakukan langsung di lapangan dan ada pula yang hanya dapat diukur di laboraturium. Untuk pengukuran faktor fisika-kimia tanah di laboraturium maka di lakukan pengambilan contoh tanah dan dibawa ke laboraturium. Dilapangan hewan tanah juga dapat dikumpulkan dengan cara memasang perangkap jebak (pit fall-trap). Pengumpulan hewan permukaan tanah dengan memasang perangkap jebak juga tergolong pada pengumpulan hewan tanah secara dinamik (Odum . 1992).
Fauna tanah adalah fauna yang hidup di tanah, baik yang hidup di permukaan tanah maupun yang terdapat di dalam tanah. Beberapa fauna tanah, seperti herbivora, sebenarnya memakan tumbuh-tumbuhan yang hidup di atas akarnya, tetapi juga hidup dari tumbuh-tumbuhan yang sudah mati. Jika telah mengalami kematian, fauna-fauna tersebut memberikan masukan bagi tumbuhan yang masih hidup, meskipun adapula sebagai kehidupan fauna yang lain. Fauna tanah merupakan salah satu kelompok heterotrof (makhluk hidup di luar tumbuh-tumbuhan dan bakteria yang hidupnya tergantung dari tersedianya makhluk hidup produsen) utama di dalam tanah. Proses dekomposisi dalam tanah tidak akan mampu berjalan cepat bila tidak ditunjang oleh kegiatan makrofauna tanah (Suin . 1997). 
Keberadaan mesofauna tanah dalam tanah sangat tergantung pada ketersediaan energi dan sumber makanan untuk melangsungkan hidupnya, seperti bahan organik dan biomassa hidup yang semuanya berkaitan dengan aliran siklus karbon dalam tanah. Dengan ketersediaan energi dan hara bagi mesofauna tanah tersebut, maka perkembangan dan aktivitas mesofauna tanah akan berlangsung baik dan timbal baliknya akan memberikan dampak positif bagi kesuburan tanah. Dalam sistem tanah, interaksi biota tanah tampaknya sulit dihindarkan karena biota tanah banyak terlibat dalam suatu jaring-jaring makanan dalam tanah (Arief . 2001).
Fauna tanah merupakan salah satu komponen tanah. Kehidupan fauna tanah sangat tergantung pada habitatnya, karena keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis fauna tanah di suatu daerah sangat ditentukan oleh keadaan daerah tersebut. Dengan perkataan lain keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis fauna tanah di suatu daerah sangat tergantung dari faktor lingkungan, yaitu lingkungan biotik dan lingkungan abiotik. Fauna tanah merupakan bagian dari ekosistem tanah, oleh karena itu dalam mempelajari ekologi fauna tanah faktor fisika-kimia tanah selalu diukur (Suin : 1997).
Besarnya perubahan gelombang suhu di lapisan yang jauh dari tanah berhubungan dengan jumlah radiasi sinar matahari yang jatuh pada permukaan tanah. Besarnya radiasi yang terintersepsi sebelum sampai pada permukaan tanah, tergantung pada vegetasi yang ada di atas permukaannya. Pengukuran pH tanah juga sangat diperlukan dalam melakukan penelitian mengenai fauna tanah. Suin (1997), menyebutkan bahwa ada fauna tanah yang hidup pada tanah yang pH-nya asam dan ada pula yang senang hidup pada tanah yang memiliki pH basa. Untuk jenis Collembola yang memilih hidup pada tanah yang asam disebut dengan Collembola golongan asidofil, yang memilih hidup pada tanah yang basa disebut dengan Collembola golongan kalsinofil, sedangkan yang dapat hidup pada tanah asam dan basa disebut Collembola golongan indifferen. Metode yang digunakan pada pengukuran pH tanah ada dua macam, yaitu secara kalorimeter dan pH meter (Wallwork . 1970).
Menurut Soemarwoto, J. et al (1990) semua organisme mempunyai tingkah laku iritabilitas yaitu daya menanggapi, agaknya merupakan salah satu sifat utama makhluk hidup. Daya ini memungkinkan organisme menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, betapapun sederhananya organisme tadi. Rangsangan dalam bentuk cahaya akan mempengaruhi kegiatan insekta malam. Cahaya juga memberikan informasi vital tentang lingkungannya kepada binatang (Naughton . 1973).
Insekta adalah makhluk hidup yang paling banyak di dunia, karena itu tak mengherankan bila dimanapun kita berada hampir selalu menemukan mereka. Banyak jenis diantara insekta yang merupakan pengganggu di lingkungan kita akan tetapi tidak sedikit pula yang menguntungkan
keanekaragaman spesies merupakan karakter komunitas yang penting dan banyak dibicarakan secara mendalam dari segi konsep maupun teknik aplikasinya di lapangan. Di dalam habitat alam hidup berbagai jenis hewan yang masing-masing jenis terdiri atas cacah individu yang antara satu kelompok spesies dengan spesies lainnya berbeda.  Jumlah jenis hewan ini tidak dapat sebagai keanekaragaman, karena keanekaragaman tidak hanya mempertimbangkan beberapa jumlah spesies penyusun komunitas, namun juga cacah individu masing-masing spesies dalam unit komunitas. Dengan demikian keanekaragaman merupakan kombinasi dari kekayaan spesies dan kemerataan spesies. Hubungan antara kepentingan spesies secara umum menunjukan korelasi negatip artinya komunitas akan mengandung sedikit spesies, dengan jumlah individu yang besar, dan sebaliknya pada komunitas yang mempunyai banyak spesies, masing spesies dengan cacah individu kecil. Kenekaragaman cenderung akan rendah apabila pada ekosistem yang secara fisik atau mendapatkan tekanan lingkungan dan akan cenderung tinggi pada ekosistem yang dibatasi, atau diatur faktor-faktor biotic (Soedjiran . 1990).
Suatu populasi dapat ditafsirkan sabagai suatu kelompok yang sama. Suatu populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus. Populasi dapat dibagi menjadi deme, atau populasi setempat, kelompok-kelompok yang dapat saling membuahi, satuan kolektif terkecil populasi hewan atau tumbuhan. Populasi memiliki beberapa karakteristik berupa pengukuran statistik yang tidak dapat diterapkan pada individu anggota populasi. Karakteristik dasar populasi adalah besar populasi atau kerapatan.
Populasi juga dapat ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok makhluk yang sama jenis (atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik) yang mendiami suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu dalam kelompok itu.(Soetjipta .1992).
Dalam penyebarannya individu-individu itu dapat berada dalam kelompok-kelompok, dan kelompok-kelompok itu terpisah antara satu dengan yang lain. Pemisahan kelompok-kelompok itu dapat dibatasi oleh kondisi geografis atau kondisi cuaca yang menyebabkan individu antar kelompok tidak dapat saling berhubungan untuk melakukan tukar menukar informasi genetik. Populasi-populasi yang hidup secara terpisah ini di sebut deme. Sebagai contoh, populasi banteng di Pulau Jawa terpisah menjadi dua subpopulasi, yang satu terdapat di kawasan Taman Nasional Baluran yang terletak di ujung timur, yang lain terdapat di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang berada di ujung barat Pulau Jawa. Jika isolasi geografis atau cuaca itu menyebabkan hewan sama sekali tidak dapat melakukan pertukaran informasi genetik, maka antara kelompok yang satu dengan yang lain bisa terdapat variasi-variasi genetik sebagai akibat seleksi alam yang terjadi di tempat masing-masing. Namun jika ada kejadian yang memungkinkan dua populasi yang terpisah dapat bersatu, pertukaran informasi genetik dapat berlangsung.
Ada dua ciri dasar populasi, yaitu : ciri biologis, yang merupakan ciri-ciri yang dipunyai oleh individu-individu pembangun populasi itu, serta ciri-ciri statistik, yang merupakan ciri uniknya sebagai himpunan atau kelompok individu-individu yang berinteraksi satu dengan lainnya (Suin . 1989).










BAB III
METODOLOGI
3.1. Waktu dan tempat
        Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya percobaan ini adalah sebagai berikut:
Hari/Tanggal             : Jumat-Sabtu/ 21-23 November 2014
Pukul                         : 15.00 – 110.00 WIB
Tempat                      : Hutan Lindung Aeknauli

3.2. Alat, Bahan dan Prosedur kerja

ΓΌ  Metode Pit Fall Trap
·       Alat
No.
Nama Alat
Jumlah
1.
Ember
4 buah
2.
Tangguk/saringan
1 buah
3.
Botol sampel
4 buah

·         Bahan
No.
Nama Bahan
Jumlah
1.
Air
Secukupnya
2.
Alkohol
Secukupnya
3.
Detergen
Secukupnya

·         Tabel Prosedur Kerja
No.
Prosedur Kerja
1.
Praktikan menyiapkan alat dan bahan
2.
Memilih dua area yang memiliki karakteristik vegetasi yang cenderung berbeda. satu homogen dan yang satu lagi heterogen.
3.
Pada area homogen, membuat lubang sedalam ember dengan menggunakan parang. Selanjutnya menarik garis vertikal sepanjang 5 meter dari stasiun pertama dan membuat lubang yang sama sebagai stasiun kedua. Melakukan hal yang sama pada area yang heterogen.
4.
Menanam ember pada lubang yang telah dibuat hingga rata hingga tidak tampak bekas galian.
5.
Memasukkan air detergen kedalam ember sebanyak 1/3 ember.
6.
Penanaman kaleng dilakukan pada pukul 18.00 wibhingga pukul 6.00 wib.
7.
Menyortir fauna dengan menuangkan air detergen kedalam tangguk. dan mengoleksi hewan-hewan kedalam botol sample yang telah diberi alkohol 70%.


ΓΌ  Metode Pheromon Trap
·         Tabel Alat
No.
Nama Alat
Jumlah
1.
Botol Aqua
4 buah
2.
Suntik
1 buah
3.
Kawat/tali
Secukupnya
4.
Botol sampel
8 buah
5.
Kapas
Secukupnya

·         Tabel Bahan
No.
Nama Bahan
Jumlah
1.
Air
Secukupnya
2.
Metyl eugenol
0.2 ml x 8 botol
3.
kapas
Secukupnya
4.
Alkohol
Secukupnya


·         Tabel Prosedur Kerja
No.
Prosedur Kerja
1.
Praktikan menyiapkan alat dan bahan
2.
Praktikan menyuntikkan beberapa ml metyl eugenol ke kapas pheromone trap
3.
Praktikan membagi dua pheromone trap untuk kedua lokasi pengambilan sampel. 2 di hutan homogen dan 2 lainnya di hutan heterogen
4.
Praktikan menggantung miring pheromone trap di ranting pohon dengan ketinggian kurang lebih 1,75m dari tanah. Lalu membiarkannya selama 24jam
5.
Setelah 24 jam, praktikan melakukan pengecekan pheromone trap dikedua lokasi pengambilan sampel.
6.
Setelah pengecekan, praktikan membersihkan pheromone trap dan menyuntikkan kembali pheromone lalu kembali melakukan pengamatan selama 24 jam.


ΓΌ  Metode Light Trap
·         Tabel Alat
No.
Nama Alat
Jumlah
1.
Botol Aqua
5 buah
2.
Lampu pijar
5 buah ( warna berbeda)
3.
Tali
Secukupnya
4.
Rangkaian listrik
-
5.
Botol sample
5 buah

·         Tabel Bahan
No.
Nama Bahan
Jumlah
1.
Alkohol 70%
Secukupnya
2.
Air
Secukupnya

·         Tabel Prosedur Kerja
No.
Prosedur Kerja
1.
Praktikan menyiapkan alat dan bahan.
2.
Praktikan merangkai listrik dengan menggunakan bola lampu sebanyak 5 buah ( Merah, kuning, biru, hijau, hijau ).
3.
Praktikkan menggantungkannya di atas tiang yang vertikal.
4.
Menggantungkan botol disetiap lampu yang berbeda.
5.
6.
Memasukkan air pada setiap botol.
Melakukan pengamatan 1x2 jam. Dimulai  pada pukul 21.00 wib
7.
Memasukkan fauna yang ada kedalam botol sample yang berisi alkohol 70 %. Lalu mengganti air didalam botol setiap pengamatan 1x2 jam.













BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
                                         
4.1. METODE PIT FALL TRAP
·           Tabel Hasil Pengamatan di hutan Homogen
NO
PENAGKAPAN KE-
JENIS BIOTOP
JENIS HEWAN
JUMLAH TOTAL
RATA-RATA
CACING
NYAMUK
KUTU TANAH
1
1
BIOTOP 1
-
-
2
2
2
2
BIOTOP 2
1
2
-
3
1.5
3
2
BIOTOP 1
-
3
1
4
2
4
BIOTOP 2
2
1
7
10
3.3

RUMUS PERHITUNGAN TABEL



D  = ∑ (ni/N)                                                                                        
Ket. D = Dominansi spesies   
        ni = Jumlah spesies 
        N = Jumlah seluruh spesies
H’ = -∑ pi log pi       
                                                   
Ket. H’ = Indeks keanekaragaman 
  Pi = ni/N                 

Ket. ni = Jumlah spesies
      N = Jumlah total spesies
                        
 S2 = n X2-(X)2         ket. S2 = variansi 
           n(n-1)                n = Jmlh.spesies


Keterangan :
< 1       : rendah
1-3       : sedang
> 3       : tinggi



Penangkapan Ke-1

BIOTOP 1
·           KUTU TANAH
D  = ∑ (ni/N)
     = 2/2
     = 1
Pi = ni/N   
    = 2/2
    = 1             
H’ = -∑ pi log pi       
     = - (1 log 1)
     = 0

BIOTOP 2
·           CACING
D  = ∑ (ni/N)
      = 1/3
      = 0.3
Pi = ni/N   
    = 1/3
    = 0.3
H’ = -∑ pi log pi       
    = - (0.3 log 0.3)
    = -(-0.15)
    = 0.15

·           NYAMUK
D  = ∑ (ni/N)
    = 2/3
   = 0.67
Pi = ni/N   
    = 2/3
    = 0.67
H’ = -∑ pi log pi       
    = - (0.67 log 0.67)
    = -( -0.11)
    = 0.11

PERHITUNGAN TABEL







Penangkapan Ke-2
BIOTOP 1
·           NYAMUK
D  = ∑ (ni/N)
     = 3/4
     = 0.75
Pi = ni/N   
    = 3/4
    = 0.75          
H’ = -∑ pi log pi       
     = - (0.75 log 0.75)
     = -(-0.09)
     = 0.09

·           KUTU TANAH
 D  = ∑ (ni/N)
     = 1/4
     = 0.25
Pi = ni/N   
    = 1/4
    = 0.25          
H’ = -∑ pi log pi       
     = - (0.25 log 0.25)
     = 0.60

BIOTOP 2
·      CACING
D  = ∑ (ni/N)
     = 2/10
     = 0.2
Pi = ni/N   
    = 2/10
    = 0.2          
H’ = -∑ pi log pi       
     = - (0.2 log 0.2)
     = 0.69

·         NYAMUK
D  = ∑ (ni/N)
     = 1/10
     = 0.1
Pi = ni/N   
    = 1/10
    = 0.1          
H’ = -∑ pi log pi       
     = - (0.1 log 0.1)
     = 0.1

·         KUTU TANAH
D  = ∑ (ni/N)
     = 7/10
     = 0.7
Pi = ni/N   
    = 7/10
    = 0.7          
H’ = -∑ pi log pi       
     = - (0.7 log 0.7)
     = 0.10






Variansi (S2) Setiap Jenis Hewan pada penangkapan 1 dan 2
PENANGKAPAN 1
·           CACING
S2 = n X2-(X)2         
           n(n-1)            
   = 3 (0+12 )-(0+1)2 ) /3(3-1)
   = 0.3

·           NYAMUK
S2 = n X2-(X)2         
           n(n-1)            
   = 3 (0+22 )-(0+2)2  /3(3-1)
   = 1.3

·         KUTU TANAH
S2 = n X2-(X)2         
           n(n-1)            
   = 3(0+22 )-(0+2)2 /3(3-1)
   = 1.3


PENANGKAPAN 2
·      CACING
S2 = n X2-(X)2         
           n(n-1)            
   = 3 (0+22 )-(0+2)2 )/3(3-1)
   = 1.3

·         NYAMUK
S2 = n X2-(X)2         
           n(n-1)            
   = 3((12+32 )-(1+3)2 ) /3(3-1)
   = 2.3

·         KUTU TANAH
S2 = n X2-(X)2         
           n(n-1)            
   = 3(12+72 )-(1+7)2 /3(3-1)
   = 14.3










Pembahasan Tabel :
Pada kuliah lapangan tentang kelimpahan fauna tanah di hutan homogen dengan metode pit fall trap  dilakukan dengan membuat plot dan membuat jebakan dari cawan diisi dengan larutan detergen setinggi 1/3 dari ember.  Setelah satu hari perangkap di ambil hanya terdapat cacing, kutu tanah dan nyamuk yang terjebak. Adapun hasil spesies terbanyak adalah kutu tanah. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya diantaranya pada waktu membuat jebakan, menggali tanahnya, serta cuaca lingkungan yang mengundang nyamuk sehingga banyak terjebak dan juga dipengaruhi oleh waktu.  
Setelah dilakukan perhitungan mengenai kemelimpahan dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shanon-Winner  0 < 1, artinya  keragaman nyamuk rendah.Sehingga kutu tanah yang mendominasi diarea hutan homogen tersebut.

·           Tabel Hasil Pengamatan di hutan Heterogen

NO
PENAGKAPAN KE-
JENIS BIOTOP
JENIS HEWAN
JUMLAH TOTAL
RATA-RATA
KUMBANG
NYAMUK
SEMUT
LABA-LABA
1
1
BIOTOP 1
1
-
3
-
4
2
2
BIOTOP 2
-
3
-
2
5
2.5
3
2
BIOTOP 1
-
2
1
-
3
1.5
4
BIOTOP 2
2
3
5
-
10
3.3







PERHITUNGAN TABEL
Penangkapan Ke-1

BIOTOP 1
·           KUMBANG

D  = ∑ (ni/N)
     = 1/4
     = 0.25
Pi = ni/N   
    = 1/4
    = 0.25             
H’ = -∑ pi log pi       
     = - (0.25 log 0.25)
     =  0.36

·           SEMUT

D  = ∑ (ni/N)
     = 3/4
     = 0.75
Pi = ni/N   
    = 3/4
    = 0.75             
H’ = -∑ pi log pi       
     = - (0.75 log 0.75)
     =  0.09   

BIOTOP 2
·           NYAMUK

D  = ∑ (ni/N)
      = 3/5
      = 0.6
Pi = ni/N   
    = 3/5
    = 0.6
H’ = -∑ pi log pi       
    = - (0.6 log 0.6)
    = 0.13
·           LABA-LABA

D  = ∑ (ni/N)
    = 2/5
   = 0.4
Pi = ni/N   
    = 2/5
    = 0.4
H’ = -∑ pi log pi       
    = - (0.4 log 0.4)
    = 0.15







Penangkapan Ke-2
BIOTOP 1
·           NYAMUK
D  = ∑ (ni/N)
     = 2/3
     = 0.67
Pi = ni/N   
    = 2/3
    = 0.67          
H’ = -∑ pi log pi       
     = - (0.67 log 0.67)
     = 0.11

·           KUTU TANAH
 D  = ∑ (ni/N)
     = 1/3
     = 0.3
Pi = ni/N   
    = 1/3
    = 0.3          
H’ = -∑ pi log pi       
     = - (0.3 log 0.3)
     = 0.15

BIOTOP 2
·      KUMBANG
D  = ∑ (ni/N)
     = 2/10
     = 0.2
Pi = ni/N   
    = 2/10
    = 0.2          
H’ = -∑ pi log pi       
     = - (0.2 log 0.2)
     =0.13

·         NYAMUK
D  = ∑ (ni/N)
     = 3/10
     = 0.3
Pi = ni/N   
    = 3/10
    = 0.3          
H’ = -∑ pi log pi       
     = - (0.3 log 0.3)
     = 0.13

·         SEMUT
D  = ∑ (ni/N)
     = 5/10
     = 0.5
Pi = ni/N   
    = 5/10
    = 0.5          
H’ = -∑ pi log pi       
     = - (0.5 log 0.5)
     = 0.15











Variansi (S2) Setiap Jenis Hewan pada penangkapan 1 dan 2
PENANGKAPAN 1
·           KUMBANG
S2 = n X2-(X)2         
           n(n-1)            
   = 4 (0+12 )-(0+1)2  /4(4-1)
   = 0.25

·           NYAMUK
S2 = n X2-(X)2         
           n(n-1)            
   = 4(0+32 )-(0+3)2  /4(4-1)
   = 2.25

·         SEMUT
S2 = n X2-(X)2         
           n(n-1)            
   = 4(0+32 )-(0+3)2  /4(4-1)
   = 2.25

·           LABA-LABA
S2 = n X2-(X)2         
           n(n-1)            
   = 4 (0+22 )-(0+2)2 /4(4-1)
   = 1



PENANGKAPAN 2
·      KUMBANG
S2 = n X2-(X)2         
           n(n-1)            
   = 3 (0+22 )-(0+2)2  /3(3-1)
   = 1.3

·         NYAMUK
S2 = n X2-(X)2         
           n(n-1)            
   = 3(22+32 )-(2+3)2  /3(3-1)
   = 2.3

·         SEMUT
S2 = n X2-(X)2         
           n(n-1)            
   = 3 (12+52 )-(1+5)2 ) /3(3-1)
   = 7



Pembahasan Tabel :
Pada kuliah lapangan tentang kemelimpahan fauna tanah di hutan heterogen dengan metode pit fall trap  dilakukan dengan membuat plot dan membuat jebakan dari cawan diisi dengan larutan detergen setinggi 1/3 dari ember.  Setelah satu hari perangkap di ambil hanya terdapat kumbang, semut, nyamuk dan laba-laba yang terjebak. Adapun hasil spesies terbanyak adalah nyamuk. Kemungkinan ada beberapa faktor yang mempengaruhinya diantaranya pada waktu membuat jebakan, menggali tanahnya, serta cuaca lingkungan yang mengundang nyamuk sehingga banyak terjebak dan juga dipengaruhi oleh waktu.  
Setelah dilakukan perhitungan mengenai kemelimpahan dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shanon-Winner  0<1 ,artinya  keragaman nyamuk rendah.


















4.2. METODE PHEROMON TRAP
·         Tabel Hasil Pengamatan di hutan Homogen
Penangkapan Ke-
Botol 1
Botol 2
1
0
0
2
0
0
Jumlah
0
0

Keterangan :
Karena tidak satupun individu yang diperoleh dari hutan homogeny oleh praktikan, sehingga penaksiran tidak dapat dilakukan. Dengan kata lain, lalat buah tidak ada di hutan homogen(hutan pinus) Aeknauli.


·         Tabel Hasil Pengamatan di hutan Heterogen
Penangkapan Ke-
Botol 1
Botol 2
1
0
0
2
0
0
Jumlah
0
0

Keterangan :
Sama halnya dengan hutan heterogen, tidak satupun individu yang diperoleh dari hutan heterogen oleh praktikan, sehingga penaksiran tidak dapat dilakukan. Dengan kata lain, lalat buah tidak ada di hutan heterogen di Aeknauli.




Pembahasan Tabel :
Faktor-faktor yang menyebabkan tidak adanya lalat buah pada pengamatan :
1.      Akibat cuaca yang tidak mendukung, dimana pada saat pengamatan di Hutan Aeknauli hujan. Sehingga ada kemungkinan lalat buah tidak dapat melakukan perkembangbiakkan di sekitar hutan itu.
2.      Botol pengamatan yang diletakkan tidak pas kemiringannya. Ada kemungkinan lalat buah tidak bisa masuk ke dalam botol pengamatan tersebut.
3.      Metil eugenol yang disuntikkan kurang atau berlebihan, sehingga lalat buah tidak tertarik untuk masuk.
4.      Pinus tidak menghasilkan buah untuk perkembangbiakannya, melainkan menghasilkan strobilus jantan dan strobilus betina. Sehingga lalat buah tidak tertarik untuk berkembang dihutan pinus.
5.      Kesalahan praktikan dalam memilih area untuk meletakkan botol pengamatan.
















4.3. METODE LIGHT TRAP
TABEL PENGAMATAN METODE LIGHT TRAP PUKUL 11.00 wib
NO
WARNA LAMPU
JENIS HEWAN
JUMLAH HEWAN
RATA-RATA
NYAMUK
SEMUT
LARON
1
KUNING
3
1
13
17
5,67
2
MERAH
1
-
1
2
1
3
HIJAU
-
-
2
2
2
4
HIJAU
-
-
2
2
2
5
BIRU
-
-
2
2
2
JUMLAH
4
1
20
25

RATA-RATA
0.8
0.2
4
-
-

RUMUS TABEL :


D  = ∑ (ni/N)                                                                                        
Ket. D = Dominansi spesies   
        ni = Jumlah spesies 
        N = Jumlah seluruh spesies
H’ = -∑ pi log pi       
                                                   
Ket. H’ = Indeks keanekaragaman 

F = Jumlah botol ditemukan satu spesies          
                     Jumlah total botol
Ket. F = frekuensi spesies          

Pi = ni/N                 

Ket. ni = Jumlah spesies
      N = Jumlah total spesies               

DR = D satu Jenis spesies 
                  D total
Ket. DR = Dominansi relatif
 FR = F satu jenis spesies x 100%
    F total
Ket. FR = Frekuensirelatif




 S2 = n X2-(X)2         ket.  S2 = Variansi
           n(n-1)                         n = Jumlah spesies

PERHITUNGAN TABEL:
        NYAMUK

D  = ∑ (ni/N)                      
       = (4/25)                              
     = 0.16
DR = D spesies x 100% / D total
      = 0.16 x 100%/1
      =16%
                                   
Pi = ni/N
       = (4/25)                              
     = 0.16                              

H’ = -∑ pi log pi                                                 
     = -∑ 0.16 log 0.16                        
     = -∑0.16 (-0.79)                               
     = 0,1264  Kriteria Rendah

F = jmlh. botol satu spesies/ jmlah  total      
= 2/5
= 0.4

FR = F spesies x 100%/ F total
     = 0.4 x 100%/1.6
     = 25%

S2  =  nX2-(x)2/n(n-1)
     =   3(32+12+0+0+0)- (3+1+0+0+0)2/ 3(2)
     = 34/6
     = 2.3

                        



               SEMUT

D = ∑ (ni/N)
     = (1/25)
     = 0.04

DR = D spesies x 100% / D total
      = 0.04 x 100%/1
      =4%

Pi = ni/N
    = (1/25)
    = 0.04

H’ = -∑ pi log pi                                                 
     = -∑ 0.04 log 0.04                        
     = -∑0.04 (-1.39)                               
     = 0,0556  Kriteria Rendah

F = jmlh. botol satu spesies/ jmlah  total    
   = 1/5
   = 0.2

FR = F spesies x 100%/ F total
     = 0.2 x 100%/1.6
     = 12.5%

S2  = nX2-(x)2/n(n-1)
     = 3(12+0+0+0+0)- (1+0+0+0+0)2/ 3(2)
    =  2/6
    = 0.3




   LARON


D  = ∑ (ni/N)
     = (20/25)
     = 0.8
DR = D spesies x 100% / D total
      = 0.8 x 100%/1
      =80%

Pi = ni/N
    = (20/25)
    = 0.8

H’ = -∑ pi log pi                                                 
     = -∑ 0.8 log 0.8                             
     = -∑0.8 (-0.09)
                   = 0.072   Kriteria rendah



 F = jmlh. botol satu spesies/ jmlah  total                  
   = 5/5
   = 1

FR = F spesies x 100%/ F total
     = 1 x 100/1.6
     = 62.5%

S2  = nX2-(x)2/n(n-1)
     = 3(132+12+22+22+22)- (13+1+2+2+2)2/ 3(2)
    =  146/6
    = 24.3
               







Berikut tabel hasil analisis perhitungan :


NO
WARNA LAMPU
JENIS HEWAN
TOTAL
NYAMUK
SEMUT
LARON
1
KUNING
3
1
13
17
2
MERAH
1
-
1
2
3
HIJAU
-
-
2
2
4
HIJAU
-
-
2
2
5
BIRU
-
-
2
2
JUMLAH
4
1
20
-
H’
0.1264
0.0556
0.072
-
D
0.16
0.04
0.8
1
DR
16%
4%
80%
-
S2
3.33
0
190
-
F
0.4
0.2
1
1.6
FR
25%
12.5%
62.5%
-





Pembahasan Tabel :
Dari hasil pengamatan yang sudah dilakukan menggunakan metode Light Trap mengunakan lampu kapal/ Lampu Tembok yang dilengkapi oleh botol yang diisi air pada bagian bawah Lampu sebagai wadah perangkap hewan yang mendekati lampuagar tidak bisa terbang kembali, kami menemukan 3 jenis spesies serangga malam yang terperangkap di dalam jebakan yang telah kami buat. Dari hasil pengamatan ini kami mendapatkan data, yaitu pada spesies nyamuk berjumlah 4 ekor, laron berjumlah 13 ekorekor, semut” berjumlah 1 ekor. Sedangkan hasil jenis hewan yang paling banyak kami peroleh yaitu pada spesies “laron”, Setelah dilakukan perhitungan mengenai kelimpahan dengan menggunakan indeks keanekaragaman shanon winner adalah 0,075 dan nilai indeks dominansinya adalah 0,8 dengan kriteria keanekaragaman rendah mengapa demikian karena hanya laron saja yang dapat bertahan hidup dilingkungan atau suatu daerah yang sempit, berbeda dengan hewan-hewan yang lebih besar tubuhnya dan serangga yang lainnya. Faktor lain yang menyebabkan laron lebih banyak dibandingkan dengan hewan lainnya yaitu bahwa semua jenis serangga yang terjebak adalah jenis serangga yang tertarik pada cahaya lampu dan cahaya lampu tersebut membuat hewan-hewan ini mendekat dan akhirnya terjebak di dalam botol yang sudah di rendami air agar hewan tersebut tidak bisa terbang kembali, pada saat meletakan lampu kapal menggunakan batang pohon dan juga suasana cuaca pada saat melakukan praktikum harinya mendung mau turun hujan,kemungkinan besar cuaca yang mendung sangat disukai oleh laron untuk keluar mencari makanan, perlu diketahui bahwa laron banyak yang memilih bersarang di tanah, ada yang di celah-celah kayu, ada pula yang di antara dedaunan pohon. Dan ada semut yang aktif di malam hari sehingga dengan mudah serangga hewan terperangkap pada jebakan Lighttrap, dan ada pula yang aktif di siang hari. Dengan adanya perbedaan strategi hidup ini maka banyak juga sifat, prilaku dan adaptasinya, misalnya spesies-spesies semut dapat berbagi sumber daya lingkungannya.


LAMPIRAN

METODE PITPALL TRAP








AREA HETEROGEN








AREA HOMOGEN













HEWAN YANG TERJEBAK DENGAN METODE PITPALL TRAP


METODE PHEROMON TRAP




































AREA HETEROGEN

















AREA HOMOGEN


METODE LIGHT TRAP








              

   LAMPU HIJAU                                         LAMPU MERAH














LAMPU BIRU                                  LAMPU HIJAU








    
      LAMPU KUNING
BAB V
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
·         Dari hasil pengamatan yang sudah dilakukan menggunakan metode Light Trap mengunakan lampu kapal/ Lampu Tembok,  hasil jenis hewan yang paling banyak kami peroleh yaitu pada spesies “laron”, Setelah dilakukan perhitungan mengenai kelimpahan dengan menggunakan indeks keanekaragaman shanon winner adalah 0,075 dan nilai indeks dominansinya adalah 0,8 dengan kriteria keanekaragaman rendah mengapa demikian karena hanya laron saja yang dapat bertahan hidup dilingkungan atau suatu daerah yang sempit, berbeda dengan hewan-hewan yang lebih besar tubuhnya dan serangga yang lainnya.
·         Pada Metode Pheromon trap tidak diperoleh hasil apa-apa, mungkin ada kesalahan praktikkan dalam merangkai alat dan faktor cuaca yang kurang mendukung. serta bahwa pohon pinus tidak menghasilkan buah yang menarik sehingga lalat buah tidak tertarik.
·         Berdasarkan hasil pengamatan penjebakan hewan dengan cara pit fall trap terdapat beberapa hewan yang terjebak disana. Dari hasil itu kita dapat menghitung kerapatan populasi tanah tersebut. Keselrhan dari hasil pengamatan bahwa hewan tanah  yang paling banyak didapatkan adalah semut merah. Disamping itu hewan hewan tersebut banyak memiliki peranan dalam ekosistem tersebut, misalnya hewan yang kita kenal berbahaya yaitu nyamuk, dari beberapa spesiesnya dapat berperan sebagai penyedia nitrogen yang bermanfaat bagi tumbuhan.
4.2. Saran
  Percobaan pada praktikum ini cukup baik, namun diharapkan untuk bimbingan yang lebih dari asisten untuk praktikan serta melihat kondisi lapangan yang cukup layak untuk diteliti. Kepada praktikan untuk tidak bermain-main saat praktikum diadakan.
DAFTAR PUSTAKA

Arief, A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Kanisius. Jakarta.
Agus Darman, dkk. 2005. Ekologi Hewan, Universitas Negeri Malang (UM PRESS), Malang.
Gatto, jonathan. 2009. http://www.designwarrior.net/light-trap-lamps-jonathan-gatto-and-mike-thompson/  Di akses tanggal 25 November 2014.
Hadisubroto,tisno.1989. Ekologi Dasar. Jakarta : DeptDikBud
Naughton.1973. Ekologi Umum edisi Ke 2. Yogyakarta :UGM Press
Odum.P.E.1996. Dasar-dasar Ekologi. Gadjah Masa University Press.
Resosoedarmo, Soedjiran. 1990. Pengantar Ekologi. Jakarta : PT.Remaja Rosdakarya
Sutedjo, M. M. 1996. Mikrobiologi Tanah. Jakarta: Rineka Cipta.
Soetjipta.1992.Dasar-dasar Ekologi Hewan. Jakarta : DeptDikBud DIKTI
Suin,nurdin Muhammad.1989. Ekologi Hewan Tanah. Jakarta : Bumi Aksara
Wallwork, J. A. 1970. Ecology of Soil Animals. London: Mc Graw Hill.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar