BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hewan dapat
didefinisikan sebagai kelompok makhluk hidup multiseluler yang berevolusi dari
organisme eukariot yang memilki nenek moyang “protista” sebagai organisme
heterotrof sel tubuh hewan telah mengalami spesialisasi dan mempunyai
bermacam-macam fungsi terutama untuk pembentukan struktur tubuh metabolisme,
menerima rangsangan, pergerakan, dan reproduksi.
Kepadatan populasi suatu jenis atau kelompok hewan
dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah atau biomassa perunit. Atau persatuan luas
atau persatuan volume. Kepadatan populasi sangat penting diukur untuk
menghitung produktifitas, tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan
komunitas lain. Keberadaan dan kepadatan popuasi suatu jenis hewan bergantung
dari faktor lingkungan yaitu faktor biotik dan faktor abiotik. Faktor biotik
bagi hewan itu sendiri yaitu lingkungan dan organisme lain yang terdapat di
habitatnya seperti mikroflora, tumbuh-tumbuhan dan jenis hewan lainnya.
Pada komunitas itu jenis-jenis organisme saling berinteraksi satu sama lain.
Interaksi itu dapat berupa predasi, parasit, kompetensi, simbiosis dan
interaksi yang lainnya.
Interaksi antara populasi merupakan interaksi yang terjadi
antara populasi-populasi dari berbagai spesies yang berbeda yang hidup bersama
dalam suatu komunitas. Dapat dikatakan bahwa populasi dari berbagai spesies
berbeda yang terdapat dalam suatu komunitas yang hidup berdampingan satu sama
lain. Beberapa ciri statistik penting pada populasi adalah kerapatan,
natalitas, mortalitas, sebaran umur, potensi biotik, pancaran dan bentuk
pertumbuhan. Di samping itu populasi itu juga memiliki karakteristik genetik
yang langsung berhubungan dengan egologinya, adalah keadaptifan, ketegaran
reproduktif, dan persistensi meninggalkan keturunan dalam waktu yang lama.
Perhitungan populasi bertujuan untuk
mengetahui keragaman dan kemelimpahan jenis hewan yang tinggal di suatu tempat.
Dalam melakukan penelitian ekologi hewan di lakukan di hutan Aek Nauli yaitu dengan menghitung kelimpahan
populasi hewan dengan menggunakan metode Pit fall trap, metode Feromon trap,
dan metode Light tarp. Penelitian ini juga dilakukan untuk memenuhi salah satu
tugas praktikum lapangan mata kuliah Ekologi Hewan.
1.2. Perumusan Masalah
·
Berapa banyak nilai
taksiran untuk kelimpahan lalat buah di Hutan Lindung Aeknauli ?
·
Bagaimana perbandingan
kelimpahan populasi lalat buah antara daerah homogen dan heterogen di Hutan
Lindung Aeknauli ?
·
Bagaimana cara menaksir
kelimpahan populasi hewan dengan menggunakan metode ?
1.3. Tujuan Penulisan
·
Untuk menaksir kelimpahan populasi lalat buah di Hutan
Lindung Aeknauli
·
Untuk membandingkan kelimpahan populasi lalat buah antara
daerah heterogen dan daerah homogen di Hutan Lindung Aeknauli
·
Untuk mengetahui cara menaksir kelimpahan populasi hewan
menggunakan metode
·
Untuk
1.4. Manfaat Penulisan
Dengan diadakannya praktikum “Menaksir
Kelimpahan Populasi Hewan” di Hutan Lindung Aeknauli, praktikan dapat memahami
dan mengamati secara langsung penggunaan setiap metode yang berbeda-beda pada
setiap percobaan, selain itu praktikan juga dapat membandingkan hasil yang di
peroleh dari setiap Metode dan dapat menilai metode apakah yang paling efektif
digunakan dalam percobaan “Menaksir Kelimpahan Populasi Hewan”.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Hutan sebagai ekosistem merupakan habitat bagi flora dan
fauna. Komponen-komponen dalam ekosistem, dalam beinteraksi memiliki peranan
tersendiri. Salah satu contoh interaksi tersebut dalam bentuk rantai makanan.
Dengan adanya rantai makanan maka masing-masing komponen mempunyai struktur
komunitas yang berbeda-beda mulai dari produsen, komsumen sampai pengurai. Pengukuran faktor fisika-kimia tanah dapat di
lakukan langsung di lapangan dan
ada pula yang hanya dapat diukur di laboraturium. Untuk pengukuran faktor
fisika-kimia tanah di laboraturium maka di lakukan pengambilan
contoh tanah dan dibawa ke laboraturium. Dilapangan hewan tanah juga dapat dikumpulkan dengan cara memasang perangkap jebak (pit
fall-trap). Pengumpulan hewan permukaan tanah
dengan memasang perangkap jebak juga tergolong pada
pengumpulan hewan tanah secara dinamik (Odum
. 1992).
Fauna tanah adalah fauna yang hidup di
tanah, baik yang hidup di permukaan tanah maupun yang terdapat di dalam tanah.
Beberapa fauna tanah, seperti herbivora, sebenarnya memakan tumbuh-tumbuhan
yang hidup di atas akarnya, tetapi juga hidup dari tumbuh-tumbuhan yang sudah
mati. Jika telah mengalami kematian, fauna-fauna tersebut memberikan masukan
bagi tumbuhan yang masih hidup, meskipun adapula sebagai kehidupan fauna yang
lain. Fauna tanah merupakan salah satu kelompok heterotrof (makhluk hidup di
luar tumbuh-tumbuhan dan bakteria yang hidupnya tergantung dari tersedianya
makhluk hidup produsen) utama di dalam tanah. Proses dekomposisi dalam tanah
tidak akan mampu berjalan cepat bila tidak ditunjang oleh kegiatan makrofauna
tanah (Suin . 1997).
Keberadaan mesofauna tanah dalam tanah
sangat tergantung pada ketersediaan energi dan sumber makanan untuk
melangsungkan hidupnya, seperti bahan organik dan biomassa hidup yang semuanya
berkaitan dengan aliran siklus karbon dalam tanah. Dengan ketersediaan energi
dan hara bagi mesofauna tanah tersebut, maka perkembangan dan aktivitas
mesofauna tanah akan berlangsung baik dan timbal baliknya akan memberikan
dampak positif bagi kesuburan tanah. Dalam sistem tanah, interaksi biota tanah
tampaknya sulit dihindarkan karena biota tanah banyak terlibat dalam suatu
jaring-jaring makanan dalam tanah (Arief
. 2001).
Fauna tanah merupakan salah satu komponen tanah. Kehidupan fauna tanah
sangat tergantung pada habitatnya, karena keberadaan dan kepadatan populasi
suatu jenis fauna tanah di suatu daerah sangat ditentukan oleh keadaan daerah
tersebut. Dengan perkataan lain keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis
fauna tanah di suatu daerah sangat tergantung dari faktor lingkungan, yaitu
lingkungan biotik dan lingkungan abiotik. Fauna tanah merupakan bagian dari
ekosistem tanah, oleh karena itu dalam mempelajari ekologi fauna tanah faktor
fisika-kimia tanah selalu diukur (Suin :
1997).
Besarnya perubahan gelombang suhu di
lapisan yang jauh dari tanah berhubungan dengan jumlah radiasi sinar matahari
yang jatuh pada permukaan tanah. Besarnya radiasi yang terintersepsi sebelum
sampai pada permukaan tanah, tergantung pada vegetasi yang ada di atas
permukaannya. Pengukuran pH tanah juga sangat diperlukan dalam
melakukan penelitian mengenai fauna tanah. Suin (1997), menyebutkan bahwa ada
fauna tanah yang hidup pada tanah yang pH-nya asam dan ada pula yang senang
hidup pada tanah yang memiliki pH basa. Untuk jenis Collembola yang memilih
hidup pada tanah yang asam disebut dengan Collembola golongan asidofil, yang
memilih hidup pada tanah yang basa disebut dengan Collembola golongan
kalsinofil, sedangkan yang dapat hidup pada tanah asam dan basa disebut
Collembola golongan indifferen. Metode yang digunakan pada pengukuran pH tanah
ada dua macam, yaitu secara kalorimeter dan pH meter
(Wallwork . 1970).
Menurut
Soemarwoto, J. et al (1990) semua organisme mempunyai tingkah laku iritabilitas
yaitu daya menanggapi, agaknya merupakan salah satu sifat utama makhluk hidup.
Daya ini memungkinkan organisme menyesuaikan diri terhadap lingkungannya,
betapapun sederhananya organisme tadi. Rangsangan dalam bentuk cahaya akan
mempengaruhi kegiatan insekta malam. Cahaya juga memberikan informasi vital
tentang lingkungannya kepada binatang (Naughton . 1973).
Insekta adalah
makhluk hidup yang paling banyak di dunia, karena itu tak mengherankan bila
dimanapun kita berada hampir selalu menemukan mereka. Banyak jenis diantara
insekta yang merupakan pengganggu di lingkungan kita akan tetapi tidak sedikit
pula yang menguntungkan
keanekaragaman
spesies merupakan karakter komunitas yang penting dan banyak dibicarakan secara
mendalam dari segi konsep maupun teknik aplikasinya di lapangan. Di dalam
habitat alam hidup berbagai jenis hewan yang masing-masing jenis terdiri atas
cacah individu yang antara satu kelompok spesies dengan spesies lainnya
berbeda. Jumlah jenis hewan ini tidak dapat sebagai keanekaragaman,
karena keanekaragaman tidak hanya mempertimbangkan beberapa jumlah spesies
penyusun komunitas, namun juga cacah individu masing-masing spesies dalam unit
komunitas. Dengan demikian keanekaragaman merupakan kombinasi dari kekayaan
spesies dan kemerataan spesies. Hubungan antara kepentingan spesies secara umum
menunjukan korelasi negatip artinya komunitas akan mengandung sedikit spesies,
dengan jumlah individu yang besar, dan sebaliknya pada komunitas yang mempunyai
banyak spesies, masing spesies dengan cacah individu kecil. Kenekaragaman
cenderung akan rendah apabila pada ekosistem yang secara fisik atau mendapatkan
tekanan lingkungan dan akan cenderung tinggi pada ekosistem yang dibatasi, atau
diatur faktor-faktor biotic (Soedjiran . 1990).
Suatu
populasi dapat ditafsirkan sabagai suatu kelompok yang sama. Suatu populasi
dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama spesiesnya dan
mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus. Populasi dapat dibagi
menjadi deme, atau populasi setempat, kelompok-kelompok yang dapat saling
membuahi, satuan kolektif terkecil populasi hewan atau tumbuhan. Populasi
memiliki beberapa karakteristik berupa pengukuran statistik yang tidak dapat
diterapkan pada individu anggota populasi. Karakteristik dasar populasi adalah
besar populasi atau kerapatan.
Populasi
juga dapat ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok makhluk yang sama jenis (atau
kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik) yang mendiami
suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling
baik digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan
karakteristik individu dalam kelompok itu.(Soetjipta
.1992).
Dalam penyebarannya individu-individu itu dapat berada dalam
kelompok-kelompok, dan kelompok-kelompok itu terpisah antara satu dengan yang
lain. Pemisahan kelompok-kelompok itu dapat dibatasi oleh kondisi geografis
atau kondisi cuaca yang menyebabkan individu antar kelompok tidak dapat saling
berhubungan untuk melakukan tukar menukar informasi genetik. Populasi-populasi
yang hidup secara terpisah ini di sebut deme.
Sebagai contoh, populasi banteng di Pulau Jawa terpisah menjadi dua
subpopulasi, yang satu terdapat di kawasan Taman Nasional Baluran yang terletak
di ujung timur, yang lain terdapat di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang berada di ujung
barat Pulau Jawa. Jika isolasi geografis atau cuaca
itu menyebabkan hewan sama sekali tidak dapat melakukan pertukaran informasi
genetik, maka antara kelompok yang satu dengan yang lain bisa terdapat
variasi-variasi genetik sebagai akibat seleksi alam yang terjadi di tempat
masing-masing. Namun jika ada kejadian yang memungkinkan dua populasi yang
terpisah dapat bersatu, pertukaran informasi genetik dapat berlangsung.
Ada dua ciri dasar populasi, yaitu : ciri biologis, yang
merupakan ciri-ciri yang dipunyai oleh individu-individu pembangun populasi
itu, serta ciri-ciri statistik, yang merupakan ciri uniknya sebagai himpunan
atau kelompok individu-individu yang berinteraksi satu dengan lainnya (Suin .
1989).
BAB III
METODOLOGI
3.1. Waktu dan tempat
Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya
percobaan ini adalah sebagai berikut:
Hari/Tanggal
: Jumat-Sabtu/ 21-23 November 2014
Pukul
: 15.00 – 110.00 WIB
Tempat
: Hutan Lindung Aeknauli
3.2. Alat, Bahan dan Prosedur kerja
ΓΌ Metode Pit Fall Trap
·
Alat
No.
|
Nama Alat
|
Jumlah
|
1.
|
Ember
|
4 buah
|
2.
|
Tangguk/saringan
|
1 buah
|
3.
|
Botol sampel
|
4 buah
|
·
Bahan
No.
|
Nama Bahan
|
Jumlah
|
1.
|
Air
|
Secukupnya
|
2.
|
Alkohol
|
Secukupnya
|
3.
|
Detergen
|
Secukupnya
|
·
Tabel Prosedur Kerja
No.
|
Prosedur Kerja
|
1.
|
Praktikan menyiapkan alat dan bahan
|
2.
|
Memilih dua area yang memiliki
karakteristik vegetasi yang cenderung berbeda. satu homogen dan yang satu
lagi heterogen.
|
3.
|
Pada area homogen, membuat lubang sedalam
ember dengan menggunakan parang. Selanjutnya menarik garis vertikal sepanjang
5 meter dari stasiun pertama dan membuat lubang yang sama sebagai stasiun
kedua. Melakukan hal yang sama pada area yang heterogen.
|
4.
|
Menanam ember pada lubang yang telah dibuat
hingga rata hingga tidak tampak bekas galian.
|
5.
|
Memasukkan air detergen kedalam ember
sebanyak 1/3 ember.
|
6.
|
Penanaman kaleng dilakukan pada pukul 18.00
wibhingga pukul 6.00 wib.
|
7.
|
Menyortir fauna dengan menuangkan air
detergen kedalam tangguk. dan mengoleksi hewan-hewan kedalam botol sample
yang telah diberi alkohol 70%.
|
ΓΌ Metode Pheromon Trap
·
Tabel Alat
No.
|
Nama Alat
|
Jumlah
|
1.
|
Botol Aqua
|
4 buah
|
2.
|
Suntik
|
1 buah
|
3.
|
Kawat/tali
|
Secukupnya
|
4.
|
Botol sampel
|
8 buah
|
5.
|
Kapas
|
Secukupnya
|
·
Tabel Bahan
No.
|
Nama Bahan
|
Jumlah
|
1.
|
Air
|
Secukupnya
|
2.
|
Metyl eugenol
|
0.2 ml x 8 botol
|
3.
|
kapas
|
Secukupnya
|
4.
|
Alkohol
|
Secukupnya
|
·
Tabel Prosedur Kerja
No.
|
Prosedur Kerja
|
1.
|
Praktikan menyiapkan alat dan bahan
|
2.
|
Praktikan menyuntikkan beberapa ml metyl
eugenol ke kapas pheromone trap
|
3.
|
Praktikan membagi dua pheromone trap untuk
kedua lokasi pengambilan sampel. 2 di hutan homogen dan 2 lainnya di hutan heterogen
|
4.
|
Praktikan menggantung miring pheromone trap
di ranting pohon dengan ketinggian kurang lebih 1,75m dari tanah. Lalu
membiarkannya selama 24jam
|
5.
|
Setelah 24 jam, praktikan melakukan
pengecekan pheromone trap dikedua lokasi pengambilan sampel.
|
6.
|
Setelah pengecekan, praktikan membersihkan
pheromone trap dan menyuntikkan kembali pheromone lalu kembali melakukan
pengamatan selama 24 jam.
|
ΓΌ Metode Light Trap
·
Tabel Alat
No.
|
Nama Alat
|
Jumlah
|
1.
|
Botol Aqua
|
5 buah
|
2.
|
Lampu pijar
|
5 buah ( warna berbeda)
|
3.
|
Tali
|
Secukupnya
|
4.
|
Rangkaian listrik
|
-
|
5.
|
Botol
sample
|
5 buah
|
·
Tabel Bahan
No.
|
Nama Bahan
|
Jumlah
|
1.
|
Alkohol 70%
|
Secukupnya
|
2.
|
Air
|
Secukupnya
|
·
Tabel Prosedur Kerja
No.
|
Prosedur Kerja
|
1.
|
Praktikan menyiapkan alat dan bahan.
|
2.
|
Praktikan merangkai listrik dengan
menggunakan bola lampu sebanyak 5 buah ( Merah, kuning, biru, hijau, hijau ).
|
3.
|
Praktikkan menggantungkannya di atas tiang
yang vertikal.
|
4.
|
Menggantungkan botol disetiap lampu yang
berbeda.
|
5.
6.
|
Memasukkan air pada setiap botol.
Melakukan pengamatan 1x2 jam. Dimulai pada pukul 21.00 wib
|
7.
|
Memasukkan fauna yang ada kedalam botol
sample yang berisi alkohol 70 %. Lalu mengganti air didalam botol setiap
pengamatan 1x2 jam.
|
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. METODE
PIT FALL TRAP
·
Tabel
Hasil Pengamatan di hutan Homogen
NO
|
PENAGKAPAN KE-
|
JENIS BIOTOP
|
JENIS HEWAN
|
JUMLAH TOTAL
|
RATA-RATA
|
||
CACING
|
NYAMUK
|
KUTU TANAH
|
|||||
1
|
1
|
BIOTOP 1
|
-
|
-
|
2
|
2
|
2
|
2
|
BIOTOP 2
|
1
|
2
|
-
|
3
|
1.5
|
|
3
|
2
|
BIOTOP 1
|
-
|
3
|
1
|
4
|
2
|
4
|
BIOTOP 2
|
2
|
1
|
7
|
10
|
3.3
|
|
RUMUS PERHITUNGAN TABEL
D = ∑ (ni/N)
Ket. D = Dominansi spesies
ni = Jumlah
spesies
N = Jumlah
seluruh spesies
H’
= -∑ pi log pi
Ket. H’ = Indeks keanekaragaman
Pi
= ni/N
Ket. ni = Jumlah spesies
N = Jumlah
total spesies
S2 = n ∑X2-(∑X)2 ket. S2 = variansi
n(n-1) n = Jmlh.spesies
Keterangan :
< 1 : rendah
1-3 : sedang
> 3 : tinggi
Penangkapan Ke-1
BIOTOP 1
·
KUTU TANAH
D
= ∑ (ni/N)
= 2/2
= 1
Pi = ni/N
= 2/2
= 1
H’
= -∑ pi log pi
= - (1 log 1)
= 0
|
BIOTOP 2
·
CACING
D
= ∑ (ni/N)
= 1/3
= 0.3
Pi = ni/N
=
1/3
=
0.3
H’
= -∑ pi log pi
=
- (0.3 log 0.3)
=
-(-0.15)
=
0.15
·
NYAMUK
D
= ∑ (ni/N)
=
2/3
=
0.67
Pi = ni/N
=
2/3
=
0.67
H’
= -∑ pi log pi
=
- (0.67 log 0.67)
=
-( -0.11)
=
0.11
|
PERHITUNGAN TABEL
Penangkapan Ke-2
BIOTOP 1
·
NYAMUK
D
= ∑ (ni/N)
= 3/4
= 0.75
Pi = ni/N
= 3/4
= 0.75
H’
= -∑ pi log pi
= - (0.75
log 0.75)
= -(-0.09)
= 0.09
·
KUTU TANAH
D
= ∑ (ni/N)
= 1/4
= 0.25
Pi = ni/N
= 1/4
= 0.25
H’
= -∑ pi log pi
= - (0.25
log 0.25)
= 0.60
|
BIOTOP 2
· CACING
D
= ∑ (ni/N)
= 2/10
= 0.2
Pi = ni/N
= 2/10
= 0.2
H’
= -∑ pi log pi
= - (0.2 log
0.2)
= 0.69
·
NYAMUK
D
= ∑ (ni/N)
= 1/10
= 0.1
Pi = ni/N
= 1/10
= 0.1
H’
= -∑ pi log pi
= - (0.1 log
0.1)
= 0.1
·
KUTU TANAH
D
= ∑ (ni/N)
= 7/10
= 0.7
Pi = ni/N
= 7/10
= 0.7
H’
= -∑ pi log pi
= - (0.7 log
0.7)
= 0.10
|
Variansi (S2) Setiap Jenis Hewan pada
penangkapan 1 dan 2
PENANGKAPAN 1
·
CACING
S2 = n ∑X2-(∑X)2
n(n-1)
= 3
(0+12 )-(0+1)2 ) /3(3-1)
= 0.3
·
NYAMUK
S2 = n ∑X2-(∑X)2
n(n-1)
=
3 (0+22 )-(0+2)2 /3(3-1)
= 1.3
·
KUTU TANAH
S2 = n ∑X2-(∑X)2
n(n-1)
=
3(0+22 )-(0+2)2 /3(3-1)
= 1.3
|
PENANGKAPAN 2
·
CACING
S2 = n ∑X2-(∑X)2
n(n-1)
=
3 (0+22 )-(0+2)2 )/3(3-1)
= 1.3
·
NYAMUK
S2 = n ∑X2-(∑X)2
n(n-1)
=
3((12+32 )-(1+3)2 ) /3(3-1)
= 2.3
·
KUTU TANAH
S2 = n ∑X2-(∑X)2
n(n-1)
= 3(12+72
)-(1+7)2 /3(3-1)
= 14.3
|
Pembahasan Tabel :
Pada kuliah
lapangan tentang kelimpahan fauna tanah di hutan homogen dengan metode pit fall
trap dilakukan dengan membuat plot dan membuat jebakan dari cawan diisi
dengan larutan detergen setinggi 1/3 dari ember. Setelah satu hari perangkap di ambil hanya
terdapat cacing, kutu tanah dan nyamuk yang terjebak. Adapun hasil spesies
terbanyak adalah kutu tanah. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya
diantaranya pada waktu membuat jebakan, menggali tanahnya, serta cuaca
lingkungan yang mengundang nyamuk sehingga banyak terjebak dan juga dipengaruhi
oleh waktu.
Setelah
dilakukan perhitungan mengenai kemelimpahan dengan menggunakan indeks
keanekaragaman Shanon-Winner 0 < 1, artinya keragaman nyamuk rendah.Sehingga kutu tanah yang
mendominasi diarea hutan homogen tersebut.
·
Tabel
Hasil Pengamatan di hutan Heterogen
NO
|
PENAGKAPAN KE-
|
JENIS BIOTOP
|
JENIS HEWAN
|
JUMLAH TOTAL
|
RATA-RATA
|
|||
KUMBANG
|
NYAMUK
|
SEMUT
|
LABA-LABA
|
|||||
1
|
1
|
BIOTOP 1
|
1
|
-
|
3
|
-
|
4
|
2
|
2
|
BIOTOP 2
|
-
|
3
|
-
|
2
|
5
|
2.5
|
|
3
|
2
|
BIOTOP 1
|
-
|
2
|
1
|
-
|
3
|
1.5
|
4
|
BIOTOP 2
|
2
|
3
|
5
|
-
|
10
|
3.3
|
|
PERHITUNGAN TABEL
Penangkapan Ke-1
BIOTOP 1
·
KUMBANG
D = ∑
(ni/N)
= 1/4
= 0.25
Pi = ni/N
= 1/4
= 0.25
H’ = -∑ pi log
pi
= - (0.25 log 0.25)
= 0.36
·
SEMUT
D = ∑
(ni/N)
= 3/4
= 0.75
Pi = ni/N
= 3/4
= 0.75
H’ = -∑ pi log
pi
= - (0.75 log 0.75)
= 0.09
|
BIOTOP 2
·
NYAMUK
D = ∑
(ni/N)
= 3/5
= 0.6
Pi = ni/N
=
3/5
=
0.6
H’ = -∑ pi log
pi
=
- (0.6 log 0.6)
=
0.13
·
LABA-LABA
D = ∑
(ni/N)
=
2/5
=
0.4
Pi = ni/N
=
2/5
=
0.4
H’ = -∑ pi log
pi
=
- (0.4 log 0.4)
=
0.15
|
Penangkapan Ke-2
BIOTOP 1
·
NYAMUK
D = ∑
(ni/N)
= 2/3
= 0.67
Pi =
ni/N
= 2/3
= 0.67
H’ = -∑ pi log
pi
= - (0.67 log 0.67)
= 0.11
·
KUTU TANAH
D = ∑ (ni/N)
= 1/3
= 0.3
Pi =
ni/N
= 1/3
= 0.3
H’ = -∑ pi log
pi
= - (0.3 log 0.3)
= 0.15
|
BIOTOP 2
·
KUMBANG
D = ∑ (ni/N)
= 2/10
= 0.2
Pi =
ni/N
= 2/10
= 0.2
H’ = -∑ pi log
pi
= - (0.2 log 0.2)
=0.13
·
NYAMUK
D = ∑
(ni/N)
= 3/10
= 0.3
Pi =
ni/N
= 3/10
= 0.3
H’ = -∑ pi log
pi
= - (0.3 log 0.3)
= 0.13
·
SEMUT
D = ∑
(ni/N)
= 5/10
= 0.5
Pi =
ni/N
= 5/10
= 0.5
H’ = -∑ pi log
pi
= - (0.5 log 0.5)
= 0.15
|
Variansi (S2) Setiap Jenis Hewan pada
penangkapan 1 dan 2
PENANGKAPAN 1
·
KUMBANG
S2 = n ∑X2-(∑X)2
n(n-1)
= 4
(0+12 )-(0+1)2 /4(4-1)
= 0.25
·
NYAMUK
S2 = n ∑X2-(∑X)2
n(n-1)
= 4(0+32
)-(0+3)2 /4(4-1)
= 2.25
·
SEMUT
S2 = n ∑X2-(∑X)2
n(n-1)
= 4(0+32
)-(0+3)2 /4(4-1)
= 2.25
·
LABA-LABA
S2 = n ∑X2-(∑X)2
n(n-1)
=
4 (0+22 )-(0+2)2 /4(4-1)
=
1
|
PENANGKAPAN 2
·
KUMBANG
S2 = n ∑X2-(∑X)2
n(n-1)
= 3
(0+22 )-(0+2)2 /3(3-1)
= 1.3
·
NYAMUK
S2 = n ∑X2-(∑X)2
n(n-1)
= 3(22+32
)-(2+3)2 /3(3-1)
= 2.3
·
SEMUT
S2 = n ∑X2-(∑X)2
n(n-1)
= 3
(12+52 )-(1+5)2 ) /3(3-1)
= 7
|
Pembahasan Tabel :
Pada kuliah lapangan
tentang kemelimpahan fauna tanah di hutan heterogen dengan metode pit fall
trap dilakukan dengan membuat plot dan membuat jebakan dari cawan diisi
dengan larutan detergen setinggi 1/3 dari ember. Setelah satu hari perangkap di ambil hanya
terdapat kumbang, semut, nyamuk dan laba-laba yang terjebak. Adapun hasil
spesies terbanyak adalah nyamuk. Kemungkinan ada beberapa faktor yang
mempengaruhinya diantaranya pada waktu membuat jebakan, menggali tanahnya,
serta cuaca lingkungan yang mengundang nyamuk sehingga banyak terjebak dan juga
dipengaruhi oleh waktu.
Setelah
dilakukan perhitungan mengenai kemelimpahan dengan menggunakan indeks
keanekaragaman Shanon-Winner 0<1 ,artinya keragaman nyamuk rendah.
4.2. METODE
PHEROMON TRAP
·
Tabel Hasil Pengamatan di hutan Homogen
Penangkapan Ke-
|
Botol 1
|
Botol 2
|
1
|
0
|
0
|
2
|
0
|
0
|
Jumlah
|
0
|
0
|
Keterangan
:
Karena tidak
satupun individu yang diperoleh dari hutan homogeny oleh praktikan, sehingga
penaksiran tidak dapat dilakukan. Dengan kata lain, lalat buah tidak ada di
hutan homogen(hutan pinus) Aeknauli.
·
Tabel Hasil Pengamatan di hutan Heterogen
Penangkapan Ke-
|
Botol 1
|
Botol 2
|
1
|
0
|
0
|
2
|
0
|
0
|
Jumlah
|
0
|
0
|
Keterangan
:
Sama
halnya dengan hutan heterogen, tidak satupun individu
yang diperoleh dari hutan heterogen
oleh praktikan, sehingga penaksiran tidak dapat dilakukan. Dengan kata lain,
lalat buah tidak ada di hutan heterogen di
Aeknauli.
Pembahasan
Tabel :
Faktor-faktor
yang menyebabkan tidak adanya lalat buah pada pengamatan :
1. Akibat cuaca yang tidak mendukung, dimana
pada saat pengamatan di Hutan Aeknauli hujan. Sehingga ada kemungkinan lalat
buah tidak dapat melakukan perkembangbiakkan di sekitar hutan itu.
2. Botol pengamatan yang diletakkan tidak pas
kemiringannya. Ada kemungkinan lalat buah tidak bisa masuk ke dalam botol
pengamatan tersebut.
3. Metil eugenol yang disuntikkan kurang atau
berlebihan, sehingga lalat buah tidak tertarik untuk masuk.
4. Pinus
tidak menghasilkan buah untuk perkembangbiakannya, melainkan menghasilkan
strobilus jantan dan strobilus betina. Sehingga lalat buah tidak tertarik untuk
berkembang dihutan pinus.
5. Kesalahan praktikan dalam memilih area untuk meletakkan
botol pengamatan.
4.3. METODE
LIGHT TRAP
TABEL PENGAMATAN METODE LIGHT TRAP PUKUL
11.00 wib
NO
|
WARNA LAMPU
|
JENIS HEWAN
|
JUMLAH HEWAN
|
RATA-RATA
|
||
NYAMUK
|
SEMUT
|
LARON
|
||||
1
|
KUNING
|
3
|
1
|
13
|
17
|
5,67
|
2
|
MERAH
|
1
|
-
|
1
|
2
|
1
|
3
|
HIJAU
|
-
|
-
|
2
|
2
|
2
|
4
|
HIJAU
|
-
|
-
|
2
|
2
|
2
|
5
|
BIRU
|
-
|
-
|
2
|
2
|
2
|
JUMLAH
|
4
|
1
|
20
|
25
|
||
RATA-RATA
|
0.8
|
0.2
|
4
|
-
|
-
|
|
RUMUS TABEL :
D = ∑ (ni/N)
Ket. D = Dominansi spesies
ni = Jumlah
spesies
N = Jumlah
seluruh spesies
H’
= -∑ pi log pi
Ket. H’ = Indeks keanekaragaman
F = Jumlah botol ditemukan satu spesies
Jumlah total botol
Ket. F = frekuensi spesies
Pi = ni/N
Ket. ni = Jumlah spesies
N = Jumlah
total spesies
DR = D satu Jenis
spesies
D total
Ket. DR = Dominansi relatif
FR = F satu jenis spesies x 100%
F total
Ket. FR = Frekuensirelatif
S2
= n ∑X2-(∑X)2 ket. S2 =
Variansi
n(n-1) n =
Jumlah spesies
PERHITUNGAN TABEL:
NYAMUK
D = ∑ (ni/N)
= (4/25)
= 0.16
DR = D spesies x 100% / D total
=
0.16 x 100%/1
=16%
Pi = ni/N
= (4/25)
= 0.16
H’ =
-∑ pi log pi
= -∑ 0.16 log 0.16
= -∑0.16 (-0.79)
= 0,1264 Kriteria Rendah
|
F = jmlh.
botol satu spesies/ jmlah total
= 2/5
= 0.4
FR = F spesies x 100%/ F total
= 0.4
x 100%/1.6
= 25%
S2
= n∑X2-(∑x)2/n(n-1)
= 3(32+12+0+0+0)-
(3+1+0+0+0)2/ 3(2)
=
34/6
= 2.3
|
SEMUT
D = ∑ (ni/N)
= (1/25)
= 0.04
DR = D spesies x 100% / D total
=
0.04 x 100%/1
=4%
Pi = ni/N
= (1/25)
= 0.04
H’ =
-∑ pi log pi
= -∑ 0.04 log 0.04
= -∑0.04 (-1.39)
= 0,0556 Kriteria Rendah
|
F = jmlh.
botol satu spesies/ jmlah total
= 1/5
= 0.2
FR = F
spesies x 100%/ F total
= 0.2 x 100%/1.6
= 12.5%
S2 = n∑X2-(∑x)2/n(n-1)
= 3(12+0+0+0+0)- (1+0+0+0+0)2/
3(2)
=
2/6
= 0.3
|
LARON
D = ∑ (ni/N)
= (20/25)
= 0.8
DR = D spesies x 100% / D total
=
0.8 x 100%/1
=80%
Pi = ni/N
= (20/25)
= 0.8
H’ =
-∑ pi log pi
= -∑ 0.8 log 0.8
= -∑0.8 (-0.09)
= 0.072 Kriteria
rendah
|
F = jmlh. botol satu spesies/ jmlah total
= 5/5
= 1
FR = F
spesies x 100%/ F total
= 1 x 100/1.6
= 62.5%
S2 = n∑X2-(∑x)2/n(n-1)
= 3(132+12+22+22+22)-
(13+1+2+2+2)2/ 3(2)
=
146/6
= 24.3
|
Berikut tabel hasil analisis perhitungan :
NO
|
WARNA LAMPU
|
JENIS HEWAN
|
TOTAL
|
||
NYAMUK
|
SEMUT
|
LARON
|
|||
1
|
KUNING
|
3
|
1
|
13
|
17
|
2
|
MERAH
|
1
|
-
|
1
|
2
|
3
|
HIJAU
|
-
|
-
|
2
|
2
|
4
|
HIJAU
|
-
|
-
|
2
|
2
|
5
|
BIRU
|
-
|
-
|
2
|
2
|
JUMLAH
|
4
|
1
|
20
|
-
|
|
H’
|
0.1264
|
0.0556
|
0.072
|
-
|
|
D
|
0.16
|
0.04
|
0.8
|
1
|
|
DR
|
16%
|
4%
|
80%
|
-
|
|
S2
|
3.33
|
0
|
190
|
-
|
|
F
|
0.4
|
0.2
|
1
|
1.6
|
|
FR
|
25%
|
12.5%
|
62.5%
|
-
|
|
Pembahasan Tabel :
Dari hasil pengamatan yang sudah dilakukan menggunakan metode Light
Trap mengunakan lampu kapal/ Lampu Tembok yang dilengkapi oleh botol yang diisi
air pada bagian bawah Lampu sebagai wadah perangkap hewan yang mendekati
lampuagar tidak bisa terbang kembali, kami menemukan 3 jenis spesies serangga
malam yang terperangkap di dalam jebakan yang telah kami buat. Dari hasil
pengamatan ini kami mendapatkan data, yaitu pada spesies nyamuk berjumlah 4
ekor, laron berjumlah 13 ekorekor, semut” berjumlah 1 ekor. Sedangkan hasil
jenis hewan yang paling banyak kami peroleh yaitu pada spesies “laron”, Setelah
dilakukan perhitungan mengenai kelimpahan dengan menggunakan indeks
keanekaragaman shanon winner adalah 0,075
dan nilai indeks dominansinya adalah 0,8 dengan kriteria keanekaragaman rendah mengapa demikian karena
hanya laron saja yang dapat bertahan hidup dilingkungan atau suatu daerah yang
sempit, berbeda dengan hewan-hewan yang lebih besar tubuhnya dan serangga yang
lainnya. Faktor lain yang menyebabkan laron lebih banyak dibandingkan dengan
hewan lainnya yaitu bahwa semua jenis serangga yang terjebak adalah jenis
serangga yang tertarik pada cahaya lampu dan cahaya lampu tersebut membuat
hewan-hewan ini mendekat dan akhirnya terjebak di dalam botol yang sudah di rendami
air agar hewan tersebut tidak bisa terbang kembali, pada saat meletakan lampu
kapal menggunakan batang pohon dan juga suasana cuaca pada saat melakukan
praktikum harinya mendung mau turun hujan,kemungkinan besar cuaca yang mendung
sangat disukai oleh laron untuk keluar mencari makanan, perlu diketahui bahwa
laron banyak yang memilih bersarang di tanah, ada yang di celah-celah kayu, ada
pula yang di antara dedaunan pohon. Dan ada semut yang aktif di malam hari
sehingga dengan mudah serangga hewan terperangkap pada jebakan Lighttrap, dan
ada pula yang aktif di siang hari. Dengan adanya perbedaan strategi hidup ini
maka banyak juga sifat, prilaku dan adaptasinya, misalnya spesies-spesies semut
dapat berbagi sumber daya lingkungannya.
LAMPIRAN
METODE PITPALL TRAP
AREA HETEROGEN
AREA HOMOGEN
HEWAN YANG TERJEBAK DENGAN METODE PITPALL
TRAP
METODE PHEROMON TRAP
AREA HETEROGEN
AREA HOMOGEN
METODE LIGHT TRAP
LAMPU HIJAU LAMPU
MERAH
LAMPU
BIRU LAMPU
HIJAU
LAMPU KUNING
BAB V
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
·
Dari hasil pengamatan
yang sudah dilakukan menggunakan metode Light Trap mengunakan lampu kapal/ Lampu
Tembok, hasil jenis hewan yang paling banyak kami
peroleh yaitu pada spesies “laron”, Setelah dilakukan perhitungan mengenai
kelimpahan dengan menggunakan indeks keanekaragaman shanon winner adalah 0,075 dan nilai indeks dominansinya
adalah 0,8 dengan kriteria keanekaragaman
rendah mengapa demikian karena hanya laron saja yang dapat bertahan hidup
dilingkungan atau suatu daerah yang sempit, berbeda dengan hewan-hewan yang
lebih besar tubuhnya dan serangga yang lainnya.
·
Pada Metode
Pheromon trap tidak diperoleh hasil apa-apa, mungkin ada kesalahan praktikkan
dalam merangkai alat dan faktor cuaca yang kurang mendukung. serta bahwa pohon
pinus tidak menghasilkan buah yang menarik sehingga lalat buah tidak tertarik.
·
Berdasarkan hasil pengamatan
penjebakan hewan dengan cara pit fall trap terdapat beberapa hewan yang
terjebak disana. Dari hasil itu kita dapat menghitung kerapatan populasi tanah
tersebut. Keselrhan dari hasil pengamatan bahwa hewan tanah yang paling
banyak didapatkan adalah semut merah. Disamping itu hewan hewan tersebut banyak
memiliki peranan dalam ekosistem tersebut, misalnya hewan yang kita kenal
berbahaya yaitu nyamuk, dari beberapa spesiesnya dapat berperan sebagai
penyedia nitrogen yang bermanfaat bagi tumbuhan.
4.2. Saran
Percobaan pada praktikum ini cukup baik, namun diharapkan
untuk bimbingan yang lebih dari asisten untuk praktikan serta melihat kondisi lapangan yang cukup layak untuk diteliti.
Kepada praktikan untuk tidak bermain-main saat praktikum diadakan.
DAFTAR PUSTAKA
Arief,
A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Kanisius. Jakarta.
Agus Darman, dkk. 2005. Ekologi
Hewan, Universitas Negeri Malang (UM PRESS), Malang.
Gatto, jonathan. 2009. http://www.designwarrior.net/light-trap-lamps-jonathan-gatto-and-mike-thompson/
Di akses tanggal 25 November 2014.
Hadisubroto,tisno.1989. Ekologi
Dasar. Jakarta : DeptDikBud
Naughton.1973. Ekologi Umum edisi
Ke 2. Yogyakarta :UGM Press
Odum.P.E.1996.
Dasar-dasar Ekologi. Gadjah Masa University Press.
Resosoedarmo,
Soedjiran. 1990. Pengantar Ekologi. Jakarta : PT.Remaja Rosdakarya
Sutedjo, M. M.
1996. Mikrobiologi Tanah. Jakarta: Rineka Cipta.
Soetjipta.1992.Dasar-dasar
Ekologi Hewan. Jakarta : DeptDikBud DIKTI
Suin,nurdin Muhammad.1989. Ekologi
Hewan Tanah. Jakarta : Bumi Aksara
Wallwork,
J. A. 1970. Ecology of Soil Animals. London: Mc Graw Hill.